10. The Avengers
Joss Whedon menjalankan tugasnya dengan sempurna dalam mengerjakan The Avengers sehingga
hasilnya... boom! Salah satu film superhero terbaik yang pernah dibuat.
Penuh hingar bingar dengan aksi serta efek khusus yang mempesona,
pembagian jatah screentime yang adil merata untuk ke-6 superhero kondang
milik Marvel serta suntikkan humornya yang cerdas, membuat film ini sangat menyenangkan untuk disimak.
9. The Raid
The Raid adalah jawaban atas pertanyaan ‘kapan perfilman Indonesia
bisa membuat film laga yang seru?’ yang telah dilayangkan menahun.
Tanpa dibekali skrip yang memadai, Gareth Evans tetap sanggup membuat
penonton duduk manis di dalam bioskop dan terpukau menyaksikan gelaran
aksi yang ditebar nyaris tanpa putus yang memacu adrenalin. Desingan
peluru, baku hantam, hingga muncratan darah adalah apa yang akan Anda
dapatkan saat menyaksikan film ini. Penonton terlalu sibuk untuk dibuat
tegang, bersorak sorai, atau malah mengumpat sehingga dapat memaafkan
plot-nya yang setipis kertas.
8. The Dark Knight Rises
Christopher Nolan memberikan hampir semua yang diinginkan oleh fans Batman dan film-filmnya melalui The Dark Knight Rises.
Seri penutup dari trilogi Sang Ksatria Hitam ini dibuat dengan lebih
ambisius, lebih megah, lebih dalam, lebih suram, lebih rumit, dan lebih
seru dari sebelumnya. Walaupun bagi saya Batman Begins dan The Dark Knight masih lebih unggul, khususnya dalam hal penceritaan, The Dark Knight Rises tetaplah sebuah konklusi epik dari Batman Nolan yang akan teramat sayang jika dilewatkan begitu saja.
7. Kahaani
Ketika
masih ada sejumlah masyarakat Indonesia mencemooh film India, tanpa
mereka sadari Bollywood telah melangkah jauh ke depan. Kahaani
adalah salah satu bukti terkonkritnya. Meniadakan lagu serta gerakan
tari yang telah menjadi ciri khas film India, garapan Sujoy Ghosh ini
membawa kita kepada sebuah jalinan penceritaan yang menegangkan dan tak
henti-hentinya menimbulkan rasa penasaran. Akting cemerlang dari Vidya
Balan serta ‘twist ending’ yang sama sekali tidak disangka-sangka
datangnya (dan sangat watdefak tentunya), membuat saya berani melabeli
Kahaani dengan... Bollywood at its best!
6. Frankenweenie
Selamat
datang kembali, Tim Burton. Setelah beberapa tahun terakhir tersesat
dalam film-film yang memble, Burton akhirnya bangkit, menggebrak,
memuaskan para penggemarnya, dan siap untuk merebut kembali kejayaannya
yang telah pudar melalui Frankenweenie yang merupakan reka ulang
dari film pendek garapannya. Hadir dengan nuansa ‘gothic’ yang menjadi
ciri khasnya, ada banyak magis di dalam film ini serta satu elemen yang
nampaknya telah absen dalam beberapa film terakhir Burton, hati. Frankenweenie adalah sebuah film animasi yang hangat, menyentuh, jenaka, sekaligus menyeramkan.
5. End of Watch
End of Watch
bukanlah ‘another buddy cop movie’ dengan konsep yang usang, klise, dan
mudah ditebak. Memilih pendekatan baru untuk genre ini dengan
menyajikannya dengan gaya mockumentary seolah kita tengah menyimak
sebuah reality show berjudul Cops, menyuntikkan hati,
menyeimbangkan antara aksi, drama serta sedikit ‘teror’, dan chemistry
yang luar biasa antar para pemainnya, End of Watch pun berakhir sebagai sebuah hidangan yang sederhana namun lezat. It’s gripping, intense, and fun. It brought every single one of my emotions out.
4. Skyfall
Saya
tidak pernah benar-benar menjadi fans berat dari James Bond yang
mengenal setiap karakter serta franchise filmnya luar dalam. Akan
tetapi, Skyfall telah mempengaruhi saya untuk mempelajari
sekaligus memahami si agen 007 ini berkat Sam Mendes yang lebih asyik
dalam menguliti dan menyelami sisi humanis dari Bond ketimbang menggeber
aksi seperti dua jilid pendahulu (dari generasi Daniel Craig). Pun
demikian, Skyfall tetap memiliki serentetan adegan aksi yang
mendebarkan – simak saja set piece pembukanya yang seru dan
habis-habisan – serta yang menjadi highlight dari jilid ini,
sinematografi yang sangat cantik. Inilah film aksi terbaik dari tahun
lalu.
3. The Intouchables
Salah
satu film terlaris sepanjang masa di Prancis ini benar-benar sanggup
membuat saya tersihir saat pertama kali menyimaknya hingga kemudian
memutuskan untuk melahapnya lagi dan lagi. Guliran cerita persahabatan
yang diangkat dari kisah nyata antara Philippe, seorang kaya raya yang
lumpuh, dan Driss, perawatnya yang penuh masalah namun seringkali
menyemburkan energi positif, dikemas oleh duo Olivier Nakache dan Eric
Toledano dengan santai dan penuh humor tapi tetap berhasil membuat hati
tersentuh hingga (oh ini memalukan, sebenarnya) menitikkan air mata. Dua
tokoh utamanya sangat ‘lovable’ dan track ‘Una mattina’ gubahan
Ludovico Einaudi sungguh menghantui.
2. The Cabin in the Woods
Salah
satu film horror paling cerdas yang pernah saya saksikan dalam beberapa
tahun terakhir. Kapankah terakhir kali Anda bersenang-senang, berteriak
ketakutan, dan melontarkan ‘Watdefak!’ berulang kali tatkala
menyaksikan sebuah film seram di bioskop? The Cabin in the Woods
mengobati kerinduan saya akan film horor yang tidak hanya membuat saya
terlonjak dari kursi bioskop dan berteriak sekencang mungkin, tetapi
juga terpana dengan kisah yang disajikan. Duo Drew Goddard dan Joss
Whedon berhasil menampilkan teror klasik yang mencekam dengan balutan
dialog berselera humor tinggi, sindiran-sindiran atas ramuan klise film
horor, dan alur yang susah ditebak kemana akan bermuara. 20 menit
terakhir dari film ini membuktikan kejeniusan Goddard dan Whedon. Ini
adalah sebuah kado (atau surat cinta?) istimewa untuk para penikmat
horror.
1. Life of Pi
Jika
ada pertanyaan, “apa film yang paling sering Anda saksikan di tahun
2012?”, dilayangkan kepada saya, maka tanpa ragu saya akan menjawab, Life of Pi.
Empat kali saya menyaksikan film ini di bioskop, tak sekalipun rasa
bosan menghinggapi, dan rasa kagum seperti pertama kali menyaksikannya
selalu saya dapatkan saat menyimak ulang. Ini adalah sebuah pencapaian
sinematis yang sangat luar biasa, Ang Lee at his best! Selama lebih dari
dua jam, Life of Pi membuat saya bersemangat, terlibat,
tersentuh, tertawa, terkejut, hingga tertampar keras-keras. Penampilan
apik dari para pemain, penceritaan yang menakjubkan, sinematografi yang
memesona, visual efek yang mencengangkan, musik skor yang indah, hingga
petualangan berbalut fantasi yang penuh kejutan adalah apa yang akan
Anda dapatkan dari Life of Pi. Dan masih ditambah dengan 3D-nya
yang merasuk sempurna. Pesan moral yang coba untuk dihaturkan oleh film
ini pun berhasil tersampaikan dengan sangat baik dan mengena, setidaknya
bagi saya. Ada sebuah dampak positif yang saya rasakan usai menyaksikan
film ini. Everything about this movie was simply beautiful.












0 komentar:
Posting Komentar